fbpx

Raden Ayu Lasminingrat : Intelektual Wanita Pertama di Indonesia

Ketika R.A. Kartini lahir tahun 1879, Raden Ayu Lasminingrat sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang dijadikan buku bacaan wajib di HIS, Schakelschool, dan sekolah lainnya, hingga akhir masa penjajahan Belanda.

Beliau lahir jauh sebelum R.A Kartini, Dewi Sartika, ataupun Cut Nyak Dien. Mungkin terlupakan. Bahkan dipelajaran sejarahpun sangat sedikit dibahas. Raden Ayu Lasminingrat, begitulah nama yang disematkan kepada beliau oleh Raden Haji Moehammad Moesa, seorang perintis kesusastraan cetak Sunda, pengarang, ulama, dan tokoh Sunda abad ke-19. Beliau lahir dari pasangan Raden Haji Moehammad Moesa dan Raden Ayu Ria pada tahun 1843.

Empat tahun sebelum Dewi Sartika lahir, Raden Ayu Lasminingrat sudah fasih menulis buku untuk bacaan anak-anak sekolah. Ketika R.A. Kartini lahir tahun 1879, Raden Ayu Lasminingrat sudah menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang dijadikan buku bacaan wajib di HIS, Schakelschool, dan sekolah lainnya, hingga akhir masa penjajahan Belanda.

Perjuangan Lasminingrat dititik-beratkan pada dunia kepenulisan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Buah karyanya diantaranya mendirikan sekolah Kautamaan Istri yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah seperti sekarang. Selain itu, dia juga menulis beberapa buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah, baik karangan sendiri maupun terjemahan.

Pada 1875 ia menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari karya Christoph von Schmid. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin.

Setelah karya tersebut, pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin.

Sungguh luar biasa jika kita melihat pada banyaknya jumlah eksemplar cetak buku beliau, mengingat pada masa kini saja, sebagian besar penerbit buku hanya mencetak buku sebanyak 1.500 sampai 3.000 eksemplar saja untuk terbitan pertama. Sulit membayangkan, bagaimana karyanya bisa laku keras, sementara pada masa itu masyarakat pribumi masih banyak yang buta huruf. Lebih mencengangkan lagi, karya-karya Lasminingrat mengalami cetak ulang berkali-kali. Sungguh luar biasa.

Terobosan baru yang dicapai Lasminingrat di dunia kepengarangan adalah penggunaan kata ganti orang pertama. Mikihiro Moriyama dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 mencatat bahwa ia merupakan penulis pribumi pertama yang menggunakan kata ganti orang pertama dalam tulisan berbahasa Sunda. Lasminingrat, tulis Mikihiro, memakai kata “kula” yang merujuk kepada saya dalam kata pengantar bukunya Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng yang terbit pada 1876. Buku ini merupakan kumpulan berbagai macam karya terjemahan.

Baca juga orang-orang Garut masa kini yang telah ikut mengharumkan nama Garut di Pituin Garut.

Setelah menjadi istri Bupati Garut RAA Wiratanudatar VIII, Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda (Moriyama, 2005: 243). Sejak kecil Lasminingrat bercita-cita memajukan kaum hawa melalui pendidikan.

Mimpinya ini terwujud pada tahun 1907, ketika beliau mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Di sekolah ini Lasminingrat mulai menggunakan kurikulum. Tidak disangka, pada 1911 sekolahnya berkembang. Jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah Pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Hingga pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.

Di sekolah Keutamaan Istri, murid-muridnya diajari cara memasak, merapikan pakaian, mencuci, menjahit pakaian, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan berumah tangga. Tujuannya, supaya kelak saat dewasa dan menikah, mereka bisa membahagiakan suami dan anak, juga mengerjakan sendiri apa saja yang berhubungan dengan rumah tangga.

Lasminingrat dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap orang lain. Dalam catatan sejarah, ia merupakan salah seorang tokoh yang mendukung Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan pada 1904. Hingga kini, lebih dari 1 abad kemudian, mimpinya masih terus mengalir di darah setiap perempuan sunda…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This