fbpx

Cimareme 1919 : Pemberontakan Berdarah H. Hasan Arif Menentang Kolonial Belanda

Cimareme 1919 : Pemberontakan Berdarah H. Hasan Arif Menentang  Kolonial Belanda

Mayat-mayat yang berlumuran darah itu dilemparkan saja kedalam gerbong untuk diangkut menuju Garut. Seluruh rakyat Garut harus tahu, upah bagi pemberontak, ialah kematian. Orang-orang berkerumun di stasiun Garut, suara-suaranya bergumam, mendengungkan berkumandang dan ketika gerbong yang tergenang darah itu tiba, gumam itu menjadi pekik yang dahsyat dari Rakyat yang melihat tubuh-tubuh yang sudah menjadi mayat dan berlumuran darah.

Sontak karena kaget tanpa terasa Sukaesih menitik air mata dan dia juga melihat Rakyat sekitarnya juga merasakan hal yang sama. Terlihat juga dari sela-sela gerbong itu darah yang menetes. Mayat-mayat yang bergelimang darah itu tampak kemerahan.

Mereka melihat darah H.Hasan, keluarga dan pengikutnya, seperti darah mereka sendiri, yaitu Darah Rakyat yang tertindas. Terasa kemarahan dan dendam yang bergejolak di hati Sukaesih, terasa ada tungku dijantungnya, yang menyala dan membakar hebat darahnya dan dia seakan-akan melihat Belanda yang berdiri itu sebagai seekor lalat saja. Dia bergumam didalam hati “Aku mesti melawan. Mesti melawan”.

 

Haji Hasan merupakan keturunan Kesultanan Banten dari ayahnya Kiyai Tubagus Alpani. Ibunya, Djamilah, merupakan putri R. Kartaningrat, pendiri Pondok Pesantren Cimareme.

Sejak muda, H. Hasan sudah sangat disegani oleh warga sekitar. Beliau mengajar ilmu agama, membekali para santrinya dengan ilmu silat, dan sangat peduli dengan olahraga. Beliau mendirikan perkumpulan pencak silat dan sepakbola. Beliau juga melek dengan politik dan tergabung dalam perkumpulan Goena Perlaja yang dipimpin oleh Kyai Abdullah dari Tegalgubuk Cirebon.

Beliau mempunyai lahan pertanian yang cukup luas, hingga beliau menjadi terkenal karena tenaman tembakaunya yang dikenal dengan nama “Bako Cimareme” dan juga peternakan kuda-kudanya.

Pada Tahun 1919, Kolonial Belanda membuat kebijakan yang sangat merugikan rakyat Priangan dengan mencoba mengeksploitasi hasil panen padi. H. Hasan melakukan penolakan dan perlawanan heroik.

  • Tahun 1911-1912 terjadi kegagalan panen yang hebat dibelahan bumi bagian utara seluruh Asia.
  • Tahun 1918-1919 kegagalan panen terulang lagi sehingga mengakibatkan keadaan pangan makin memburuk. Penyebabnya adalah kesulitan angkutan laut yang disebabkan oleh perang dunia I. Ditambah lagi pada akhir tahun 1918 terjadi masa kering yang panjang, sehingga mengakibatkan keterlambatan panen 1 ½ bulan serta dilarangnya ekspor beras di Asia Tenggara. Hal ini membuat Indonesia tidak bisa memperoleh beras dari luar negeri, padahal hasil panen Indonesia sangat buruk.
  • 17 Maret 1919 Pertemuan untuk membahas masalah bahan makanan dihelat di Bandung. Dihadiri oleh Direktur Pertanian, S. Mulder, dan juga Residen, Pejabat Pemerintah, para Insinyur, para ahli pertanian, serta Komisi Persediaan Makanan, pertemuan ini membahas kebijakan pemerintah untuk mengatasi kekurangan beras dan mencegah bahaya kelaparan. Hasil pertemuan itu memutuskan untuk melakukan pembelian padi dari petani.
  • 26 Maret 1919 Residen Priangan mengirim surat kepada semua Asisten Residen mengenai peraturan pelaksanaan pembelian padi dari petani di daerah masing-masing.
  • 24 April 1919 H. Hasan, yang geram dengan ketetapan pembelian padi, mengirimkan surat permohonan kepada Asisten Residen yang isinya adalah agar mempertimbangkan kembali ketetapan menjual padi.
  • 10 Mei 1919 Usul pengurangan penjualan padi itu baru disampaikan kepada Asisten Residen oleh Bupati dalam rapat daerah kabupaten Garut, tetapi Asisten Residen tetap menolak permintaan H. Hasan tersebut.
  • 18-20 Juni 1919 Wedana mendengar dari juru tulisnya bahwa H. Hasan menolak untuk menyetorkan jumlah padi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
  • 24 Juni 1919 H. Rasadi dan H. Kadir memberi tahu Wedana bahwa H. Hasan telah mengumpulkan anak-anaknya untuk bertempur melawan siapa saja yang akan mengambil padinya.
  • 25 Juni 1919 Terbit sebuah surat kepada bupati Garut yang isinya menerangkan bahwa H. Hasan tetap tidak bersedia menjual padinya sesuai dengan ketetapan pemerintah dan sedang mempersiapkan diri untuk melawan Negara dengan bermacam senjata dan pakaian putih.
  • 2 Juli 1919, Bupati mengirimkan surat kepada Asisten Residen yang menyatakan bahwa H. Hasan telah berbuat kurang ajar dan harus ditindak dengan kekerasan.
  • 3 Juli 1919 Asisten Residen mengeluarkan keputusan untuk menangkap H. Hasan dan memerintahkan untuk meminta bantuan polisi bersenjata dari Tasikmalaya.
  • 4 Juli 1919 H. Hasan kembali mengirimkan surat kepada Asisten Residen yang isinya hampir sama dengan suratnya yang pertama dan menyatakan rasa hormat dan ketakutannya kepada pejabat pemerintah, termasuk Wedana Leles dan Lurah Cikendal. Namun dibalik ketakutannya itu rupanya H. Hasan sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pemerintah.
  • 6 Juli 1919 sekitar jam 12.30, empat puluh orang infantry dibawah pimpinan Mayor Van Der Bie dan Letnan Hillen berangkat ke Garut, untuk memperkuat pasukan pemerintah dalam penangkapan H. Hasan.
  • 7 Juli 1919 berangkatlah pasukan penangkapan H. Hasan ke Cimareme. Setibanya pasukan itu di Cimareme, H. Hasan tetap menolak ditangkap. Sejumlah tembakan peringatan tidak digubris H. Hasan. Para pengikut dan keluarganya berzikir dengan keras. Hingga akhirnya pasukan penangkapan mengarahkan senjata api ke rumahnya dan menembaki rumah H. Hasan. H. Hasan meninggal bersama keluarganya dan jenazahnya dibawa ke Garut kota dengan menggunakan kereta.

 

 

Darah siapakah yang menggenang merah

Membasahi bumi Priangan?

Ah, itulah darah H. Hasan

Dipotong, seanak bininya

 

Konon, apakah H. Hasan seorang perampok?

Ah H. Hasan hanya mempertahankan sejengkal tanah

Beberapa pikul padi dan bakul beras, mempertahankan anak bininya

 

Tetapi lehernya dipenggal, sekeluarga menemui ajal,

Dan darah menggenang merah,

Dan si perampok berkulit putih, mengamangkan goloknya,

 

Ditengah perjalanan sejarah

Ia haus darah, haus darah….

 

Cimareme 1919 : Pemberontakan Berdarah H. Hasan Arif Menentang  Kolonial Belanda
Tim Jelajah Garut

***

Dukung terus Jelajah Garut melalui usaha-usaha kecil yang kita jalankan:

Jelajah Garut Merchandise | Jelajah Garut Tour Organizer | Jelajah Garut Outdoor Gear Rental

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This